Bunga Seorang Dewi
Jantungku terpukul begitu dahsyat. Tak ada kata yang pantas terucap dari lidah yang kelu tanpa memperdulikan teriakan hati menyayat dinding hati. Begitu cepat waktu ini tiba. Aku masih ingin membelai kemulusan kelopak bunga yang selalu cerah ceria tanpa cacat di tanganku yang kasar dan penuh dengan noda. Akankah semuanya akan berakhir dengan ” happily ever after ” ? Tanda tanya besar menyesaki ruang di dadaku. Begitu beratnya sampai-sampai aku harus menginjak seluruh ego yang bergelayut di segenap bagian dari diriku. Today is the Judgement Day. Asa ku terus kupaksa untuk merendah. Aku tak ingin tergores. Aku tak ingin tersayat. Aku hanya ingin merasakan kehangatan cahaya yang menembus awan-awan mendung yang selalu tersenyum saat melihatku berjuang, merintih, dan terkapar, tergeletak tanpa raga.
Bunga itu terus memberikan keindahannya tanpa disadarinya bahwa aku telah terpikat oleh kuntumnya. Saat mekar, aku berharap aku yang pantas untuk memetiknya, menyimpannya, dan menjaganya dengan seluruh daya yang kusiapkan sampai badan ini tak bernyawa. Sebegitu berharganya kah bunga itu ? YA !!! Tiada hal lain yang dapat menggantikan, menggesernya pun tidak dari mata batin ku. Akankah bunga itu rela untuk kupetik ?? Perlahan kuulurkan tanganku dalam kebisuan yang dalam. Pelan. Lembut. Hangat. Dan kugenggam, lekat dalam telapak tanganku. Namun untuk menariknya, mencabutnya, aku membutuhkan lebih dari sekedar arak yang membawaku meraih keberanian dan kemampuan untuk mendapatkannya. Seluruh tubuhku membatu. Jantungku berhenti seketika. Kulitku terkelupas. Mataku tersamarkan. Mulutku terkunci rapat. Darahku serasa malas untuk mengalir menjalari otakku yang beristirahat. Semua kekuatan kupusatkan pada telingaku. Berharap mendengar nada-nada indah yang dinyanyikannya, sabda seorang dewi yang menentukan arah jalanku. Pelan-pelan kutunggu titah itu terucap dari bibirnya yang merona merah, semerah kelopak bunga yang ingin kupetik.
Aku kembali ke alam nyata dimana langit masih biru dan mentari masih bersinar. Kembali kupasang telingaku dengan segenap roh yang masih mampu menembus garangnya aral. Kutunggu. Hari ini. Jangan lagi esok. Dewiku dan bungaku.
~ oleh amphiby di/pada Juni 13, 2008.
Ditulis dalam Social Life
Tag: bunga, dewi, puisi

Tinggalkan Balasan