Berseru dan Berserah pada Tuhan

Masalah. Selalu saja masalah yang menjadi beban pikiran kita sebagai manusia. Ya, memang hidup manusia tidak bisa dipisahkan dari masalah. Ada yang bilang, “hidup tanpa masalah bikin hidup kurang menantang”. Atau “masalah itu bikin hidup lebih hidup.” Entahlah. Namun satu yang pasti. Tuhan mengijinkan masalah itu ada dalam kehidupan kita supaya kita lebih dekat kepada Tuhan. Tuhan mengasihi kita. Namun terkadang kasih Tuhan kita salah artikan.

Apa yang kita lakukan saat menghadapi situasi yang genting dalam hidup kita? Menyalahkan Tuhan? Itu yang biasanya manusia lakukan. “Kenapa Kau membuat aku menjadi sperti ini padahal aku sudah setia sama Engkau Tuhan”. Teriakan seperti itu mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Tuhan. Terlalu sering.

Banyak kesaksian dan kisah hidup berbagai orang, baik tokoh Alkitab maupun bukan, yang menyatakan bahwa Tuhan telah seringkali menolong mereka lepas dari kesesakkan, keterhimpitan, dan situasi genting. Namun sering kita bertanya, kenapa hal itu tidak aku rasakan, kenapa hal itu tidak aku alami, apakah Tuhan tidak mau menolong aku?

Ada satu kesamaan dari kesaksian orang-orang tersebut yang menjadi kunci sehingga pertolongan Tuhan datang di saat yang tepat.

Berseru pada Tuhan.

Apa artinya itu? Berseru pada Tuhan berarti mengambil waktu sejenak untuk berdua saja dengan Tuhan. Nyatakan isi hatimu pada Tuhan. Ucapkanlah doa dan permohonanmu.

Seorang hamba Tuhan pernah bersaksi. Hidupnya pernah hancur. Bisnisnya kacau. Hutang ratusan juta rupiah. Rumah tangga terbengkalai. Dia tidak memiliki apa-apa lagi kecuali lutut untuk bertelut, lidah untuk berseru, dan air mata untuk mencurahkan kesesakkannya kepada Tuhan. Semua yang keluar dari hati dan dilakukan dengan tulus dan penuh kepasrahan akan ditampung di kirbat Tuhan dan menjadi wangi-wangian yang harum dan layak di hadapan Tuhan. Hasilnya, Tuhan pulihkan seluruh aspek kehidupannya dan dia menjadi saksi di mana-mana sehingga banyak orang yang dikuatkan dan dimenangkan.

Tuhan tahu setiap keluh kesah kita. Bahkan sebelum kita mengalaminya. Namun Tuhan ingin pengakuan kita bahwa kita ini bukan apa-apa di hadapan Tuhan. Tuhan tidak ingin kita mengandalkan kekuatan kita sendiri untuk menghadapi setiap kesesakkan yang kita alami. Tuhan ingin kita berseru, meminta pada Tuhan. Bila kita angkat tangan, maka Tuhan akan turun tangan. Dengan kita angkat tangan dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan berarti kita mengakui otoritas Tuhan atas hidup kita. Tuhan memegang tampuk kekuasaan tertinggi atas hidup kita, atas nasib kita, atas setiap aspek kehidupan kita.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kita mau untuk menyerahkan diri kita kepada Tuhan dan berseru, meminta jalan keluar kepada Bapa kita yang dahsyat?

Renungkan dan biarkan roh Tuhan melingkupi kita sehingga Tuhan dapat berbicara secara bebas kepada kita. Jangan pernah tahan kuasa dan kasih Tuhan karena tanpa itu semua, kita tidak dapat hidup.

Tuhan Yesus memberkati.

~ oleh amphiby di/pada Februari 28, 2008.

Tinggalkan Balasan